Berita Terkait


Polling

Apakah website ini membantu?

Apakah website ini membantu?

Ya: 10569 suara dari 11363 suara
93%
Tidak: 794 suara dari 11363 suara
7%

Kampung Flory Wujud Pembangunan Desa Mandiri

29 April 2018 - 00:00

SLEMAN (29/04/2018) Jogjaprov.go.id - “Desa mandiri sangat penting karena dapat mengurangi kemiskinan di desa.” Demikian diungkapkan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Aula Limasan Kampung Flory, sesaat sebelum me-launching Kampung Flory yang berlokasi di Pangukan Tridadi Sleman. Lebih lanjut Gubernur DIY berharap agar pengelola dapat mengembangkan sistem manajemen yang baik sehingga bantuan yang diterima dari pemerintah, perbankan dan pihak lain dalam rangka mengembangkan Kampung Flory ini dapat membawa manfaat bagi pengembangan ekonomi desa dan seluruh masyarakat sehingga bisa menumbuhkan desa mandiri dan berbudaya.

Kampung Flory, sebagaimana dituturkan oleh Sudiharnoto, telah dirintis pembangunannya sejak 2015 lalu. Diawal pendiriannya, Kampung Flory merupakan wisata agro, yang didirikan dengan semangat untuk dapat memikat kembali generasi muda tertarik kembali di dunia pertanian,  serta mampu memberikan kesejahteraan pada masyarakat sekitar. Melalui kerjasama yang terjalin dengan pemerintah daerah, CSR perusahaan, dan perbankan maka dalam 2,5 tahun dapat berkembang menjadi desa wisata Kampung Flory yang konsep pengelolaan dan pengembangannya adalah menciptakan sinergi antara sektor pariwisata, pertanian, pendidikan, kuliner dan budaya. Terkait dengan budaya, tempat wisata ini memiliki grup karawitan, alat musik angklung, dan Bregodo Mas Karebet.

Selanjutnya Sudiharnoto menjelaskan bahwa Kampung Flory terbagi atas tiga zona, Zona Taruna Tani Flory, Zona Desa Wisata Flory, dan Zona Agro Buah. Masing-masing seluas 1 hektar. Proses pembangunan berlangsung selama 2,5 tahun serta menghabiskan dana sebesar Rp 4,80 miliar rupiah yang terdiri dari Dana Swadaya Kelompok sebesar Rp 1,930 miliar rupiah dan Dana Bantuan Hibah sebesar Rp 2,150 miliar.

Dalam perkembangannya, Kampung Flory telah menghasilkan kunjungan sebanyak 20 ribu hingga 25 ribu tamu dengan omzet per bulan mencapai Rp 1 miliar bahkan lebih jika dalam musim liburan. Selain itu sebanyak 120 orang telah direkrut sebagai tenaga kerja. “Ke depan, semoga  dapat menjadi ikon wisata baru di DIY tetapi yang memiliki adalah masyarakat,” ucap Sudiharnoto di akhir laporannya.

Salah satu yang unik yang terdapat di Kampung Flory adalah keberadaan Warung Ndelik yang menjual jajanan tradisional, dengan para penjual yang berpakaian tradisional dan alat pembayaran berupa koin pandel yang terbuat dari kayu, dimana 1 pandel bernilai seribu rupiah, 2 pandel bernilai dua ribu rupiah, 5 pandel bernilai lima ribu rupiah dan 10 pandel bernilai sepuluh ribu rupiah.

Di hadapan Gubernur DIY, Kepala Perwakilan BI DIY, Budi Hanoto, jajaran Forkopimda Kabupaten Sleman yang hadir, Bupati Sleman, Sri Purnomo menjelaskan bahwa sektor pariwisata menjadi sektor unggulan di Kabupaten Sleman. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Sleman senantiasa mengembangkan pariwisata melalui pengembangan strategi promosi, pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat, serta daerah. Kampung Flory adalah perwujudan dari salah satu program unggulan daerah dalam sektor pariwisata yaitu desa wisata.

Kegiatan launching ditandai dengan penandatanganan prasasti dan penanaman pohon klengkeng merah yang dilakukan oleh Gubernur DIY beserta dengan didampingi oleh Bupati Sleman, Kepala Perwakilan BI DIY, dan perwakilan dari perbankan.

TIM HUMAS DIY.